Text
Namaku Teweraut
Film The God Must be Crazy mengisahkan, gara-gara sebuah botol dijatuhkan pilot pesawat capung di daerah pedalaman Afrika, cerita panjang kejutan budaya suku yang "ketiban berkah dari surga" itu bergulir. Dalam aras yang kira-kira sama, TEWERAUT boleh dibilang merupakan sukses terbesar roman antropologis yang berlatar belakang Papua. Sedikit saja penulis Indonesia yang mampu menyaingi roman ini dalam menyatakan simpati dan empati pada masyarakat tradisional yang terisolasi.
Tradisi kehidupan romantis masyarakat Asmat, belenggu kekentalan budaya dengan peran adat yang dikuasai kaum lelaki, sungguh luar biasa. Jalinan kisahnya mengantarkan potongan-potongan mozaik yang otentik dan berani. Sebagai bacaan orang dewasa yang jujur, lugu tanpa kehilangan kebuasan birahi! Diramu dengan babak-babak ritual yang selama ini terkesan magis, tertutup, namun menggetarkan.
Dan ketika gempuran 'kemajuan' datang, kesadaran terbangun dan mencari jatidiri baru, namun ternyata para pelakunya terhempas ke dalam ketidakberdayaan, khususnya saat menyaksikan praktik pembangunan 'modern yang terpola dari atas, infrastruktur yang mengenaskan, komunikasi searah yang mengabaikan kebijaksanaan para leluhur mereka.
Dalam keseluruhan alurnya, roman ini mau mengatakan, betapa berat perjuangan seorang 'perempuan dari komunitas adat terpencil' dalam upaya meningkatkan pendidikan kaumnya. Betapa terjal jalan itu. Menuntut ketabahan dan pengorbanan, Nama perempuan itu: Teweraut.
No other version available